Perubahan iklim telah menjadi salah satu tantangan terbesar bagi umat manusia di abad ke-21, dan dampaknya terhadap bencana alam global semakin tampak nyata. Secara ilmiah, perubahan iklim didefinisikan sebagai perubahan jangka panjang cuaca dan pola iklim yang diakibatkan oleh aktivitas manusia, terutama emisi gas rumah kaca.
Pertama, peningkatan suhu global menjadi faktor utama yang memengaruhi frekuensi dan intensitas bencana alam. Misalnya, suhu rata-rata Bumi yang meningkat meningkatkan risiko terjadinya badai tropis yang kuat, seperti siklon dan hurikan. Daerah pesisir sering menjadi sasaran paling rawan, di mana populasi padat dan infrastruktur rentan terhadap gelombang badai dan banjir.
Selain itu, peningkatan suhu juga berkontribusi pada kejadian kekeringan yang lebih sering dan parah. Di wilayah agraris, kekeringan berdampak pada ketahanan pangan global, dengan mengurangi hasil panen dan meningkatkan harga bahan makanan. Dalam jangka panjang, efek ini dapat memicu migrasi massal dan ketegangan sosial.
Banjir adalah dampak lain dari perubahan iklim yang sangat mempengaruhi berbagai belahan dunia. Es dan salju yang meleleh akibat suhu yang lebih tinggi meningkatkan volume air di sungai dan danau, sementara curah hujan ekstrem yang terjadi akibat perubahan pola cuaca memicu banjir bandang. Kota-kota besar, terutama yang berada di dataran rendah, sangat rentan terhadap fenomena ini.
Kota-kota di Asia Tenggara, seperti Jakarta dan Bangkok, berisiko tinggi terhadap banjir, sementara wilayah lain, seperti Eropa dan Amerika Utara, juga mengalami efek dahsyat dari hujan lebat dan banjir. Masyarakat yang tinggal di daerah rawan ini sering kali tidak memiliki infrastruktur yang memadai untuk menghadapi banyaknya curah hujan.
Perubahan iklim juga berkontribusi pada peningkatan kebakaran hutan. Suhu yang lebih tinggi dan kelembaban yang rendah menciptakan kondisi yang lebih baik untuk kebakaran hutan, yang merusak ekosistem dan kualitas udara. Indonesia dan Australia, misalnya, telah mengalami peningkatan frekuensi kebakaran hutan yang tidak hanya menimbulkan kerugian material tetapi juga memengaruhi kesehatan masyarakat.
Tidak bisa dipungkiri, perubahan iklim memperburuk dampak segala bentuk bencana alam. Kesiapan masyarakat, infrastruktur yang kurang memadai, dan perubahan pola cuaca yang tak terduga semakin membuat bumi kita rentan. Karenanya, langkah mitigasi dan adaptasi yang berkelanjutan sangat penting untuk melindungi masa depan kita dari dampak perubahaan iklim.
Seiring dengan meningkatnya kesadaran global mengenai isu ini, kolaborasi internaisonal menjadi kunci dalam mengatasi tantangan besar ini. Melalui perjanjian iklim, seperti Protokol Kyoto dan Perjanjian Paris, negara-negara berusaha mengurangi emisi gas rumah kaca dan meningkatkan ketahanan terhadap bencana natural yang semakin sering terjadi.